JATIROGO – Puluhan peserta dari berbagai unsur pesantren mengikuti kegiatan Liwetan yang diselenggarakan Rabithah Ma’ahid Islamiyah (RMI) PCNU Tuban bersama Asparagus Tuban. Kegiatan yang berlangsung pada Ahad (5/7/2026) tersebut digelar di PPM 4 Bahasa Al Muhibbin 2 Kenduruan, Tuban, pesantren yang diasuh oleh Gus Nashiruddin.
Mengusung tema “Menjaga Marwah Pesantren sebagai Lembaga Aman dan Nyaman”, kegiatan ini menjadi ruang silaturahmi sekaligus forum bertukar gagasan mengenai berbagai persoalan yang tengah dihadapi pesantren. Perubahan sosial, dinamika politik, hingga derasnya arus informasi di era digital menjadi sejumlah isu yang turut dibahas dalam pertemuan tersebut.
Ketua LBH PWNU Jawa Timur, Gus Sullamul Hadi, menilai pesantren perlu memiliki sistem perlindungan internal yang lebih terstruktur untuk memastikan lingkungan pendidikan tetap aman dan nyaman. Salah satu gagasan yang disampaikannya adalah pembentukan satuan tugas khusus di lingkungan pesantren.
Menurutnya, satgas tersebut dapat berperan dalam menjaga keamanan pesantren sekaligus meningkatkan kewaspadaan terhadap berbagai bentuk intervensi dari pihak luar.
“Menyiapkan satgas pesantren. Tujuan petugas tersebut untuk membuat pesantren aman dan nyaman. Selain itu tidak mudah menerima funding dari luar negeri. Karena isu yang berkembang, permintaan dari donor memasukan kurikulum pesantren yang beda dengan kultur pesantren di Nusantara,” ujarnya.
Sementara itu, Ketua Lakpesdam PCNU Tuban, Gus Aam Waro’ Panotogomo, menyoroti hubungan pesantren dan dinamika sosial-politik yang berkembang di masyarakat. Menurutnya, perbedaan pilihan politik dalam momentum demokrasi merupakan hal yang tidak dapat dihindari, namun semestinya tidak menghilangkan semangat kolektif dan kebersamaan.
“Asparagus tidak bisa dilepaskan dari entitas politik. Ketika dalam musim pesta demokrasi beda pandangan, namun memiliki satu visi kolektif kolegial. Jika ada Gus terjerat perkara hukum, mungkin itu diluar Asparagus,” tuturnya.
Selain persoalan sosial-politik, Gus Aam juga mengungkapkan keprihatinannya terhadap tren penurunan jumlah santri yang mondok. Ia menyebut kondisi tersebut menjadi tantangan serius yang membutuhkan inovasi dan perhatian bersama dari seluruh elemen pesantren.
“Dalam kurun waktu 2020-2025 mengalami penurunan luar biasa. Dari 4 juta, tinggal 1 juta sekian,” tambahnya.
Ia juga mengingatkan agar pesantren tetap mampu menjaga arah perjuangan dan nilai-nilai yang menjadi fondasinya. Menurutnya, masuknya kepentingan kelompok yang tidak memiliki keterkaitan langsung dengan dunia pesantren dapat berisiko menggeser orientasi dan identitas lembaga pendidikan keagamaan tersebut.
“Dalam perspektif sosial, kepentingan kelompok yang tidak berkepentingan dalam pesantren. Ini akan menjadi disorientasi,” jelasnya.
Tantangan lain disampaikan Kasatkornas Banser, Gus Syafiq Syauqi. Ia menyoroti bagaimana perkembangan media digital turut mempengaruhi citra pesantren di tengah masyarakat. Menurutnya, terdapat pihak-pihak tertentu yang berupaya membentuk opini negatif terhadap pesantren melalui berbagai saluran informasi.
“Ada faktor eksternal yang membangun citra buruk pesantren. Diakui atau tidak, pesantren kita punya Heather atau pembenci. Atau buzzer anorganik yang bertugas untuk membenci pesantren,” ungkapnya.
Gus Syafiq juga mengingatkan tentang fenomena trial by social media, yakni kecenderungan masyarakat digital memberikan penilaian atau menghakimi seseorang maupun suatu perkara melalui ruang publik sebelum proses hukum resmi berjalan.
Fenomena tersebut, menurutnya, menjadi tantangan tersendiri bagi pesantren karena opini yang berkembang di media sosial dapat dengan cepat mempengaruhi persepsi publik.
Di sisi lain, Wasekjen PBNU sekaligus sesepuh Asparagus dari Pondok Pesantren Langitan, KH Maksum Faqih atau Gus Maksum, menyoroti persoalan kualitas sejumlah pesantren yang dinilai mengalami penurunan. Kondisi itu, menurutnya, perlu segera mendapat perhatian agar keberadaan pesantren tetap mampu bertahan dan berkembang menghadapi perubahan zaman.
“Banyak pondok di downgread. Nah, ini menjadi tantangan untuk menjaga pesantren tetep eksis,” ujarnya.
Gus Maksum menilai RMI memiliki peran penting dalam menjaga keberlangsungan pesantren. Berbagai gerakan yang mendorong masyarakat untuk kembali memilih pendidikan pesantren dinilai menjadi bagian penting dalam memperkuat eksistensi lembaga pendidikan khas Nusantara tersebut.
“RMI punya gerakan posisi strategis untuk menjaga eksistensi pondok pesantren. Seperti tagar ayo mondok,” tegasnya.
Ia kemudian mengingatkan pentingnya menjaga identitas dan tradisi kepesantrenan, khususnya bagi masyarakat Tuban yang memiliki hubungan erat dengan perkembangan pesantren. Ia mengutip dawuh Mbah Mun yang menekankan kuatnya akar pesantren di Tuban.
“Dawuhe Mbah Mun, Tuban niku diapet pesantren sarang dan Langitan. Wong Tuban lek iso kudu dadi santri kabeh,” pungkasnya.
Kegiatan Liwetan tersebut diharapkan menjadi momentum untuk memperkuat komunikasi dan sinergi antarunsur pesantren. Selain itu, forum tersebut juga menjadi bagian dari upaya bersama untuk merumuskan langkah strategis dalam menghadapi tantangan zaman, sekaligus mempertahankan marwah pesantren sebagai lembaga pendidikan yang aman, nyaman, mandiri, dan tetap berpegang teguh pada nilai-nilai pesantren Nusantara.