FASTABIN Day 3 kembali menyedot perhatian para santri dan pengunjung dengan menghadirkan pameran seni yang menampilkan karya-karya kaligrafi dan lukisan naturalisme terbaik. Mengusung semangat Fastabiqul Khairat, kegiatan ini menjadi ruang apresiasi bagi para peserta untuk mengekspresikan kreativitas sekaligus memperlihatkan kedalaman nilai-nilai religius yang tersirat dalam setiap goresan.
Cabang Melukis Naturalisme menampilkan karya-karya visual yang memukau dengan keindahan tema alam. Para peserta berhasil menerjemahkan suasana alam melalui detail warna, pencahayaan, dan tekstur yang realistis. Lukisan yang dihasilkan menggambarkan pemandangan alam, pepohonan, sungai, hingga kehidupan pedesaan dengan komposisi yang harmonis..
“Saya sangat kagum dengan setiap hasil karya lukisan santri Al Muhibbin, pasalnya semuanya sangat bagus, rapi, sangat mendeskripsikan setiap keindahan alam. Saya yakin bahwa mereka adalah seniman berbakt di masa depan.” Tutur Bapak Roron Istiawan, selaku dewn juri pada perlombaan melukis naturalisme.
Kemampuan peserta dalam menangkap nuansa alam secara naturalistik menjadi perhatian utama para juri. Sebagaimana yang telah disamaikan oleh Bapak Roron Istiawan, kategori ini tidak hanya menonjolkan teknik melukis yang kuat, tetapi juga kepekaan artistik dalam menggambarkan ketenangan, kedamaian, dan keindahan ciptaan Tuhan melalui karya seni

Sedangkan sedikit bergeser pada cabang Kaligrafi Kontemporer, para peserta menampilkan karya yang memadukan unsur tradisional dengan sentuhan modern, baik dari segi warna, bentuk huruf, maupun komposisi visual. Kreativitas para peserta terlihat dari cara mereka menggabungkan aksara Arab dengan elemen dekoratif dan eksplorasi gaya artistik yang inovatif. Semangat Fastabiqul Khairat tercermin melalui upaya peserta menghadirkan keindahan seni Islam dalam gaya kekinian yang tetap menghormati nilai makna ayat yang dituliskan.
“Saya sangat kagu dengan hasil karya santri-santri Al Muhibbin, saya harap mereka selalu mengasah bakat yang mereka punya, sebab jika dibiarkan begitu saja ini sangat disayangkan. Tutur Ustadz Kasyiful Amin dan juga Ustadz Suarno, selaku dewan juri perlombaan kligrafi kontemporer.

Tidak jauh dari penuturan Ustadz Kasyifu Amin dan juga Ustadz Suarno, cabang kaligrafi khat naskah juga memiliki pendapat yang hampir sama, dalam penuturan Ustad Nur Maulana Hidayat, dan juga Ustdzah Siti Fatimah, selaku dewan juri kaligrafi khat naskah, beliau menuturkan bahwa setiap karya seni yang hadir pada malm hari ini adalah sebuah anugerah yang diberikan oleh Sang Penipta kepada setiap hambanya oleh karena itu dengan bantuan tinta kita harus menghargai pemberian itu dengan selalu berlatih dan juga belajar. Sebab dengan ketelitian dan juga goresan dalam kaligrafi akan mencerminkan dedikasi tinggi terhadap nilai-nili kesakralan kalam ilahi
“Tidak ada komentar pada setiap karya santri di malam hari ini, namun sebagaimana perlombaan kami hanya menyarankan pada setiap kader kaligrafer dan seniman di sini, agar selalu belajar dan juga mencari ilmu baru, sebab tidak selamanya yang bagus hari ini, akan bagus di hari esok. Oleh kaena itu kami sangat mendukung proses belajar dan pengembangan bakat santri-santri di sini.” Tutur Ustadz Nur Maulana Hidayat dan Ustadzah Siti Fatimah.

Sebagai penutup untuk artikel ini, tim mengambil sebuah kutipn dri kitab Ta’limul Muta’alim yang mengatakan bahwa
وَكُنْ مُسْتَفِيْدًا كُلَّ يَوْمٍ زِيَادَةً مِنَ الْعِلْمِ وَاسْبَحْ فِيْ بُحُوْرِالْفَوَائِدِ
“Jadilah engkau orang yang selalu mencari tambahan faedah setiap hari, yaitu berupa ilmu, hingga kau berenang dalam lautan faedah (ilmu)”
Editor: Anwar Dzak & Yayuk Sk.